Gerbang Emas dari Lampung: Masjid dan Kebangkitan Ekonomi Umat

Oleh: Trian Hermawan

Bayangkan tahun 2045. Seratus tahun Indonesia merdeka. Negeri ini tumbuh menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Namun denyut perubahan itu tidak datang dari gedung-gedung tinggi di ibu kota, melainkan dari masjid-masjid di daerah—terutama di tanah Sai Bumi Ruwa Jurai, Lampung. Di tengah semilir angin Teluk Lampung, masjid tidak lagi hanya tempat ibadah, tetapi menjadi pusat kegiatan ekonomi, pendidikan, dan sosial. Anak muda mengelola koperasi digital berbasis wakaf, ibu-ibu menanam sayur di halaman masjid, dan jamaah berdiskusi selepas Subuh tentang bagaimana menolong tetangga yang miskin. Lampung, yang dulu dikenal sebagai pintu gerbang Sumatra, kini menjadi Gerbang Emas kebangkitan ekonomi umat.

Namun sebelum sampai ke masa itu, kita harus berani menatap kenyataan hari ini. Di balik pesona Teluk Lampung dan kemegahan kota Bandar Lampung, masih banyak warga yang berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Data BPS 2025 menunjukkan tingkat kemiskinan Lampung mencapai 10,53 persen, atau lebih dari 1 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan. Pengangguran terbuka 4,8 persen, diperparah oleh gelombang PHK di sektor industri dan jasa. Ribuan anak kehilangan akses pendidikan karena biaya, sementara angka stunting dan gizi buruk masih tinggi di Lampung Timur dan Tulang Bawang.

Di tengah kenyataan itu, lebih dari 15.000 masjid di Provinsi Lampung berdiri megah dan ramai setiap Jumat, tetapi sebagian besar belum berfungsi sebagai pusat pemberdayaan ekonomi dan sosial. Padahal, sejarah Islam menunjukkan bahwa masjid adalah pusat kehidupan umat. Masjid Nabawi di Madinah menjadi tempat Rasulullah SAW membangun peradaban: pusat ibadah, pendidikan, sosial, hingga ekonomi. Dari sanalah lahir masyarakat yang adil, mandiri, dan berdaya.

Allah SWT berfirman:

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Ali Imran: 104)

Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab sosial bukanlah tugas segelintir orang, melainkan kewajiban kolektif umat. Karena itu, masjid harus kembali menjadi pusat perubahan sosial, tempat iman melahirkan aksi, dan doa melahirkan kerja.

Inilah semangat yang melahirkan GERBANG EMAS (Gerakan Bangun Ekonomi Masjid) di Provinsi Lampung. Sebuah inisiatif peradaban yang menempatkan masjid sebagai jantung ekonomi umat. Gerakan ini berpijak pada nilai-nilai Islam yang menuntun manusia untuk hidup produktif dan berkeadilan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)

Melalui delapan pilar strategisnya, GERBANG EMAS bergerak dari masjid ke masyarakat. Lahan-lahan tidur di sekitar masjid dihidupkan kembali menjadi kebun pangan produktif. Hasil panen menjadi bahan Dapur Makan Bergizi Gratis untuk mencegah stunting dan gizi buruk. Di Bandar Lampung dan Metro, muncul Koperasi Masjid (Koperasi Emas) serta UMKM jamaah yang menggerakkan ekonomi berbasis solidaritas. Di Lampung Tengah dan Pringsewu, pemuda masjid dilatih digitalisasi zakat dan wakaf melalui aplikasi berbasis teknologi. Semua langkah ini adalah bentuk nyata dari ajaran Islam: mengubah kemiskinan menjadi kemandirian, dan ibadah menjadi manfaat sosial.

Ibnu Khaldun, seorang cendekiawan besar Islam, pernah menulis dalam Muqaddimah bahwa kemakmuran masyarakat hanya akan lahir dari solidaritas sosial (ashabiyyah) dan pemerataan hasil kerja. Tanpa keduanya, peradaban akan melemah. GERBANG EMAS menghidupkan kembali semangat itu: membangun kekuatan ekonomi dari bawah, berbasis gotong royong jamaah dan semangat ukhuwah.

Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Ayat ini menjadi dasar spiritual gerakan ini: perubahan tidak datang dari luar, tetapi lahir dari kesadaran dan tindakan umat. Di Lampung Selatan, program Gerakan 1 Desa 1 Muzakki mulai berjalan—membimbing para mustahik menjadi pelaku ekonomi mandiri. Di Lampung Barat, jamaah masjid membangun ekowisata halal dan kuliner berbasis komunitas. Semua ini menegaskan bahwa kebangkitan tidak harus menunggu bantuan pemerintah; ia bisa dimulai dari serambi masjid dengan tekad dan iman.

“Iman bukan hanya keyakinan di hati, tetapi kekuatan yang menyalakan dunia.” Pernyataan ini sejalan dengan hakikat GERBANG EMAS: menyalakan iman menjadi energi sosial dan ekonomi. Ketika jamaah bergotong royong membuka lahan, ketika pemuda mengajar anak yatim literasi digital, ketika takmir masjid membimbing pelaku usaha mikro, sesungguhnya mereka sedang menyalakan dunia dengan cahaya iman.

Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi laboratorium gerakan ini. Provinsi ini memiliki kekayaan sumber daya alam, jaringan masjid yang luas, dan semangat religius masyarakat yang kuat. Yang dibutuhkan kini adalah sinergi antara pemerintah, ulama, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat (pentahelix) untuk menumbuhkan ekonomi berbasis masjid yang berkelanjutan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini bukan hanya tentang memberi sedekah, tetapi juga tentang menjadi produktif, mandiri, dan memberdayakan sesama. Ketika umat Islam Lampung menegakkan semangat ini, maka kemiskinan bukan lagi nasib, melainkan tantangan yang dapat diubah dengan iman, ilmu, dan kerja keras.

Jika seribu masjid di Lampung hidup dengan semangat GERBANG EMAS, maka kebangkitan ekonomi umat bukan lagi mimpi. Dari lantai-lantai masjid, akan tumbuh ekonomi berbasis kejujuran dan keberkahan. Dari jamaah, lahir solidaritas sosial yang kuat. Dan dari iman, muncul energi untuk membangun peradaban.

Karena sejatinya, kejayaan tidak lahir dari kekayaan semata, melainkan dari kesadaran spiritual yang bekerja. Jika masjid hidup, umat bangkit. Jika umat bangkit, bangsa menjadi kuat. Dan dari Lampung, cahaya itu akan bersinar: Gerbang Emas menuju Indonesia Emas 2045


Trian Hermawan
Direktur Wilayah Lembaga Pengembangan Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Investasi (LPEKIN) Provinsi Lampung

Artikel Lainnya